Ada yang rasanya nggak pas lagi.
Entah aku yang berubah, lingkunganku yang berubah, atau dua-duanya.
Senyum-senyum milik mereka masih
sama lebar dan apa adanya. Seperti sebelum saat ini. Pun dengan
senyum-senyumku. Walaupun kami tidak lagi menjadi penyebab senyum satu sama
lain. Kehidupanku berubah dengan sangat nyata. Kadang, aku merasa lebih nyaman
seperti ini. Dikelilingi alasan-alasan yang berbeda untuk tersenyum setiap
harinya. Kadang, aku merasa lebih ringan. Menikmati angin dalam perjalanan
tanpa merasa perlu mengganggu siapapun untuk berkeluh kesah.
Kadang.
Entah sejauh apa mereka bisa
menjadi seseorang yang dapat aku percaya. Nyatanya tidak selamanya kami saling
berbagi, memahami, dan mengobati luka. Sering rasanya, dari dalam kepalaku ini
terdengar ada yang berteriak begini, “ Selamat datang di kehidupan yang
sebenarnya ! Inilah hidup. Berjalanlah tanpa perlu merasa harus memiliki
seseorang yang akan mengerti dirimu sepenuhnya. Kamu tau, itu mustahil.” Tapi,
memang begitukah seharusnya ?
Aku kangen kalian dan semua
cerita tentang kita yang masih kusimpan sebagai pengingat bahwa kita pernah
sama-sama tertawa dan menangis karena alasan yang sama, lalu merasa dilengkapi
satu sama lain.
Aku kangen kamu Yuni, Zasa, Mas
Dhimas. Kita pernah punya alasan untuk sedekat itu dulu, dan doakan aku selalu
untuk bisa mengerti dan mengikhlaskan alasan-alasan yang membuat kita
se-berjarak ini sekarang.
Aku sungguh sayang kalian, dengan
sayang yang masih sama.
Salam sayang, Aida.