Tampilkan postingan dengan label forbidden to remember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label forbidden to remember. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Aku mencoba, tapi kamu bantu aku ya

Suatu pagi yang dingin di penghujung Agustus 2009
Untuk kamu, yang kemarin ijin pergi.

       Semoga kamu sudah bangun. Agar kamu bisa merasakan betapa syahdunya pagi ini. Karena gerimis menggantikan embun untuk hadir mengantarkan pelangi. Selamat pagi, hatiku masih sama seperti kemarin. Masih milikmu walau jelas-jelas aku tahu kamu tidak ingin.
Padahal dulu kamu yang meminta

       Ku harap aku masih punya daya untuk mengatakan itu, tapi nyatanya sama sekali habis dimakan rasa bersalahmu  kepadaku. Maka kini aku berharap, semoga kamu seorang indigo yang mampu membaca perasaanku tanpa aku harus mengatakan padamu.

       Kamu tahu ?Tertatih aku mengumpulkan remahan perasaanku yang, mungkin hancur. Kamu hancurkan. Mengenai perasaan itu, aku berniat mengembalikannya padamu utuh, tapi aku tidak menemukan beberapa bagiannya. Mungkin terselip di paru-paruku, belakangan nafasku sedikit sesak. Mungkin beberapa ada dijantungku, belakangan detaknya mulai tak wajar. Yaaa nanti akan kucari. Maka sebagian dulu kukembalikan, sisanya kucicil, aku janji.

       Di hari-hariku berikutnya, kumohon jangan menatapku seperti itu lagi, ya. Itu semacam menusuk persaanku semakin dalam. Rasanya ada sesuatu yang menyala dari matamu yang membuatku semakin lemah terhadap perasaanku. Nanti aku tidak bisa move on
       
       Oh iya,
      Jika kamu ingin pergi berjanjilah satu hal. Jangan meninggalkan jejak, ya. Sungguh, nanti aku kerepotan menghapusnya. 
       

Senin, 23 Januari 2012

Bitter sweet memory

Teruntuk kamu, seseorang yang entah ingat aku atau tidak :)

Sejujurnya mengenai perasaanku itu, sudah tuntas sejak lama. Perlahan tapi pasti. Kini, benar-benar tuntas. Tapi entah maksudnya apa, kadang kamu masih suka hadir di mimpiku. Tanpa membawa kesan, hanya lewat. Tanpa memberi cerita. Kamu terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu, hey ada apa ?
Mungkin aku tidak harus tahu. Dan tidak perlu tahu. Baiklah, aku diam.

Baik-baik ya.
Kamu, dan semua cerita tentang kita yang bitter sweet itu, persoalan masa lalu. Sudah rapi dipikiranku. Hanya pikiran, tidak hati. Tenang saja