Suatu pagi yang dingin di penghujung Agustus 2009
Untuk kamu, yang kemarin ijin pergi.
Semoga kamu sudah bangun. Agar kamu bisa merasakan betapa syahdunya pagi ini. Karena gerimis menggantikan embun untuk hadir mengantarkan pelangi. Selamat pagi, hatiku masih sama seperti kemarin. Masih milikmu walau jelas-jelas aku tahu kamu tidak ingin.
Padahal dulu kamu yang meminta
Ku harap aku masih punya daya untuk mengatakan itu, tapi nyatanya sama sekali habis dimakan rasa bersalahmu kepadaku. Maka kini aku berharap, semoga kamu seorang indigo yang mampu membaca perasaanku tanpa aku harus mengatakan padamu.
Kamu tahu ?Tertatih aku mengumpulkan remahan perasaanku yang, mungkin hancur. Kamu hancurkan. Mengenai perasaan itu, aku berniat mengembalikannya padamu utuh, tapi aku tidak menemukan beberapa bagiannya. Mungkin terselip di paru-paruku, belakangan nafasku sedikit sesak. Mungkin beberapa ada dijantungku, belakangan detaknya mulai tak wajar. Yaaa nanti akan kucari. Maka sebagian dulu kukembalikan, sisanya kucicil, aku janji.
Di hari-hariku berikutnya, kumohon jangan menatapku seperti itu lagi, ya. Itu semacam menusuk persaanku semakin dalam. Rasanya ada sesuatu yang menyala dari matamu yang membuatku semakin lemah terhadap perasaanku. Nanti aku tidak bisa move on.
Oh iya,
Jika kamu ingin pergi berjanjilah satu hal. Jangan meninggalkan jejak, ya. Sungguh, nanti aku kerepotan menghapusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar