Entah apa itu namanya, tapi yang jelas menyakitkan. Aku merasakannya walau tidak mengalaminya. Ini bukan apa-apa, tapi ini menyakitkan.
Dear Ayu Yuni, my beloved
Mengenai ceritamu tentang dia, Jika boleh aku mengatakan, mungkin itu semacam, cobaan bagi cinta. Ya, barangkali memang, para pecinta sepertimu 'dikutuk' untuk selalu melupakan.
Kufikir dulu, waktu satu-satunya masalah bagi seseorang yang mencintai, hingga sampai saatnya ia sadar bahwa ternyata waktu telah memakan habis cintanya. Mungkin masih disisakan sedikit. Sedikit, tak banyak.
Tapi ternyata, jarak juga ikut-ikutan. Jahat sekali. Entah siapa yang jahat. Kufikir, dia yang jahat, yang kau cintai itu. Menghilang dengan alasan klasik aneh dan memberi kenyataan yang memuakkan. Bahwa ternyata, ada orang lain.
Ah dasar anak SMA.
Begini sayang, sebenarnya masalah bangkit, melupakan lalu ikhlas dan menganggap semua itu sebagai masa lalu adalah sesuatu yang opsional, antara mau atau tidak. Antara ingin atau tidak. Sederhana, tapi susah ya ? Tinggal kamu mau pilih yang mana, otoritas penuhmu.
But pleaaaase dnt cry anymore dan membuat dia merasa berharga dimatamu. karena, secara sadar atau tidak, itu akan menusuk lebih dalam.
Kufikir yang terbaik untukmu saat ini adalah melupakan. menjalani kutukan itu dengan ikhlas. Tapi ini hanya saran dari temanmu yang tidak tahu apa-apa. Sisanya terserah kamu.
Jangan sekali-sekali berfikir bahwa melupakan semuanya tentang dia sebagai persoalan yang absurd. Karena ini persoalan waktu, aku yakin kamu tahu benar itu.
Begini, setidaknya memori itu akan abadi dalam catatan masa. Bahwa dia pernah membuat hari-harimu mejikuhibiniu, indah. Tapi cukup dalam catatan masa. Ya ?
Tapi ngomong-ngomong, cinta itu apa ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar