Sungguh anganmu benar-benar terbaca. Aku tau kau tak benar-benar membenciku, tapi sorotan matamu membuatku takut. Tajam. Menusuk. Entah mengapa kau selalu berhasil membuatnya terkesan seperti pisau yang kadang terkesan seperti anak panah, hatiku sasarannya. Dan aku tak pernah berbohong jika itu menyakitkan, sampai ke ulu hati.
Sungguh, maksudku pun benar-benar terbaca. Kau pasti tau aku tak benar-benar membuatmu terluka. Kufikir sorotan mataku sudah cukup membuatmu mengerti bahwa aku merindukan masa-masa kita menantang pagi dan memeluk malam bersama. Dan aku tak pernah berbohong jika aku pun terluka menyaksikanmu tersakiti olehku.
Dariku, Darimu
Dariku, Darimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar