Lea : "Raga, banyak hal yang kadang susah buat aku ngertiin dari kamu. Tapi justru karena segala pertanyaan itu kamu jadi sosok yang tepat buat aku belajar. Tentang bersikap, tentang hidup, tetang apa saja. Senyummu mirip ayah. Tenang dan tanpa tergesa. Semakin kesini aku ngerasa kamu semakin berbeda. Dan bukan berarti, bukan jadi sosok yang kusuka. Justru kayanya yang naksir kamu sekarang itu, Dunia. Sayang, aku ikhlas kalau kamu ingin bersanding dengan Dia yang terhebat, Tuhan."
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Juni 2013
Rabu, 13 Juni 2012
Kini, Dariku Darimu
Sungguh anganmu benar-benar terbaca. Aku tau kau tak benar-benar membenciku, tapi sorotan matamu membuatku takut. Tajam. Menusuk. Entah mengapa kau selalu berhasil membuatnya terkesan seperti pisau yang kadang terkesan seperti anak panah, hatiku sasarannya. Dan aku tak pernah berbohong jika itu menyakitkan, sampai ke ulu hati.
Sungguh, maksudku pun benar-benar terbaca. Kau pasti tau aku tak benar-benar membuatmu terluka. Kufikir sorotan mataku sudah cukup membuatmu mengerti bahwa aku merindukan masa-masa kita menantang pagi dan memeluk malam bersama. Dan aku tak pernah berbohong jika aku pun terluka menyaksikanmu tersakiti olehku.
Dariku, Darimu
Dariku, Darimu
Jumat, 17 Februari 2012
Bulir-bulir hujan
Kepada,
Bulir-bulir hujan yang menyelinap masuk lewat celah sempit atap kamarku.
Aku tidak pernah setuju untuk mengijinkanmu masuk kesini, sekalipun lewat celah-celah sempit tak terlihat itu. Kehadiranmu semacam membuatku merasa tak nyaman, dan aku benci, kau lagi lagi datang. Karena kehadiranmu ke kamarku ini, membawa perasaan yang ambivalen dalam diriku yang aku sendiri tak paham. Di satu sisi aku mencintai hujan, disisi lain aku membenci bulir-bulir yang menjelma menjadi kamu ini menghampiriku, bahkan disaat aku mulai bisa mengontrol perasaanku yang sudah lama berkecamuk karena kamu. Aku benci bahwa ketika kau mulai menetes dilantaiku dengan suara berdecik, aku harus mengahpusmu disertai perasaan dongkol dengan kain pel lusuh dan membiarkanmu hilang. Padahal, jelas-jelas aku mencintaimu.
Wahai bulir-bulir hujan yang kini menjelma menjadi kamu, jika kau memakasa masuk kesini untuk melihat seberapa dingin dinding-dinding kamarku menyimpan rasa rindu, setidaknya jangan jatuh diatas pipiku. Bagaimanapun, itu membuatku terlihat menangis. Aku tak ingin menangis karena kamu, lagi ...
Sabtu, 04 Februari 2012
Kukira nyamuk, tapi bukan
Ada yang berisik sekali semalam. Aku sampai tidak bisa tidur. Ku tengok kanan kiri, kukira nyamuk. Tapi tak kutemukan. Waktu sibuk melambai-lambaikan tangan di sekitar kepala mengusir nyamuk yang tak kelihatan, ada yang nyeletuk.
"Ini kami yang berisik"
Bingung. Suaranya dekat sekali.
"Ini aku, Hatimu yang sedang kegirangan karena si dia, Pikiranmu yang sedang berputar-putar memikirkan si dia. Hei, kau sedang jatuh cinta !"
Ahh, ternyata.
Iya aku baru sadar.
"Ini kami yang berisik"
Bingung. Suaranya dekat sekali.
"Ini aku, Hatimu yang sedang kegirangan karena si dia, Pikiranmu yang sedang berputar-putar memikirkan si dia. Hei, kau sedang jatuh cinta !"
Ahh, ternyata.
Iya aku baru sadar.
Kamis, 02 Februari 2012
Lembayung
Bumi masih disitu. Menatapi Langit dalam-dalam. Dalaaaam sekali, dan penuh arti. Sudah seminggu Langitnya tak lagi sama. Tak ada lagi semburat jingga diwajahnya ketika hari akan menjemput malam. Mungkin benar Langit sedang ngambek. Atau jangan-jangan tak akan ada lagi langit sore seperti yang dulu. Karena kini jadi kelabu. Mungkin tak akan ada lagi senja di wajah Langit untuk Bumi.
Lama sekali Bumi disitu, kepalanya mendongak keatas sejak tadi. menanti senja yang tak datang-datang juga. Mataharipun buru-buru beranjak. Perlahan-lahan Langit yang tadinya sudah kelabu mulai menghitam, malam datang. Bumi ikut-ikut beranjak, menjauhi Langit yang tak lagi sama. Mungkin karena Bumi yang duluan berubah. Entahlah.
Rabu, 01 Februari 2012
Undangan
Hai, kamu apakabar ?,
Hari pertama bulan Febuari, aku ingat kamu yang bertahun lalu pergi. Ingatan ini selalu datang secara tiba-tiba, namun serius. Karena aku tak pernah main-main mencintaimu. Dulu, pun sekarang walau kamu sudah berani pergi diam-diam.
Yang kusebut bertahun-tahun itu, ternyata masih sedekat ini dengan benakku. Aku seperti dihadapkan pada sebuah layar besar yang memutar cerita cinta tentang aku dan kamu yang sumringah. Aku baru sadar, kalau momen seperti saat kita makan bakso 5ribuan dipinggir jalan waktu hujan, ternyata berharga luar biasa. Padahal dulu, kamu mati-matian merayuku agar mau makan disitu. Hmmm, aku kangen kamu. Seberapa keras aku harus berteriak agar kamu bisa dengar ?
Sudah bertahun-tahun ya, tapi aku masih saja menulis namamu di kaca mobilku yang sedang mengembun karena hujan. Huruf besar semua. TARA. Lalu buru-buru kutiup. Namamu hilang. Aku tersenyum menertawakan takdir. Semoga tak ada malaikat yang melihatku melakukan hal bodoh seperti tadi.
Hari ini aku berencana kerumahmu yang sekarang, mengantarkan undangan. Seminggu lagi aku menikah, Tar. Walaupun aku tahu, kamu tidak akan pernah datang, bahkan hanya untuk mendoakan rumah tanggaku langgeng. Tapi toh akan tetap kuantar. Setidaknya aku punya alibi untuk mengunjungimu, agar nanti calon suamiku tidak marah. Tahu sendiri kan dia agak sedikit sensitif jika menyangkut kamu.
25 menit, aku sampai. Kuparkir mobilku didepan komplek perumahanmu (Gangnya tak memungkinkan mobilku diparkir tepat di depan rumah Tara). Langit mulai tenang, aku turun tanpa payung diiringi gerimis yang masih rapat-rapat. Aku melangkah pelan menuju rumahmu, aku sedikit lupa karena semua rumah disini terlihat sama. Aku berjalan terus sambil bermain tebak-tebakan dengan perasaan, tapi toh kutemukan rumahmu.
Ahh, iya kamu pasti sedang tidur. Sekarang hari-harimu kau lewati hanya dengan tidur. Kalau begini, aku bingung bagaimana memberikan undangan pernikahanku. Ku letakkan saja disitu ya, ditempat yang mungkin tidak bisa kau jangkau.
Tara, aku pamit ya, sebentar lagi aku berkeluarga. Aku akan bahagia, Tar. Ku doakan kamu bahagia juga, walau aku tak tahu kehidupan seperti apa yang kau jalani sekarang. Sampai ketemu ya, Tar..
Aku pulang setelah menabur bunga diatas pusaranya. Gerimis masih rintik-rintik, tapi aku tidak menangis.
Selasa, 31 Januari 2012
Kota dan Aku
Ini kota sudah tak lagi nyaman. Aku ingin pindah kota, tapi tak tahu jalan. Ini saja sudah tersesat, padahal aku tak pernah keluar rumah tanpa peta dan kompas. Tapi angin kemarin sore terlalu kencang, petaku terbawa terbang. kompasku hilang. Aku juga hilang, dan kehilangan.
Kota ini ramai yang terhampa, diam yang tergaduh, bising yang tersepi. Aku kedinginan ditengah panik. Kau tahu, tapi acuh. Aku tak peduli. Harapanku kugadaikan ditengah jalan untuk biaya makan. Aku Gusar. Menepi pada teras orang, aku malah terjebak. Jalanku makin rumit
Langit bahkan tak lagi baik, aku dimusuhi. Aku ditumpahi rasa bersalah kota ini lewat hujan, aku dipaksa berteduh. Aku mau, terpaksa. Sudah itu aku dikejar angin besar, aku hampir digulung. Aku dipaksa berlari. Kulakukan, tertatih.
Aku ingin pindah kota, tapi aku tak ada kendaraan. Perutku lapar, tapi aku tak lagi punya harapan untuk digadaikan sebagai biaya makan. Aku menyerah, semakin lemah. Sudahlah.
Kota ini, hatimu yang tak menginginkanku tinggal .
Senin, 30 Januari 2012
Bintang
Kepada langit yang hitam dan tegar,
Aku ingin menyampaikan salam kepada Andromeda, Antlia, Aquila, dan ribuan lainnya. Sampaikan kalau mereka memukau saat kau sedang tidak mendung dan tenang. Mereka cantik. Berpendar-pendar dalam tubuhmu yang sendu tak bergairah meski tegar. Kau tampak ramai dan menawan, seperti mata seseorang yang sedang jatuh cinta. berbinar-binar.
Langit, tahukah kau aku sering berbincang dengan mereka diam-diam tanpa kau ketahui. Walau terpisah jutaan kilometer. Kami punya cara sendiri untuk saling menyapa, dan itu sering. Kali ini, lewat kau saja karena mereka sedang kau sembunyikan dibalik ketiakmu. Rupanya kau akan menurunkan hujan lagi, ya ?
Jika benar kau turunkan hujan malam ini, bolehkah aku meminta sertakan satu bintang untukku, Langit? Aku hanya ingin menyimpannya dimataku agar setiap hari aku terlihat sedang jatuh cinta, though i'm not.
Langit, aku hanya sedang tidak paham, jika ada bintang yang ekornya berpendar terang sekali sepanjang ia meluncur, mereka buru-buru memanjatkan harapan. Bukankah justru baru saja ada harapan yang dibuang Tuhan (karena Tuhan tak setuju dengan harapan itu) lewat bintang berekor panjang itu ? kufikir jahat sekali jika berharap diatas pengharapan seseorang yang sudah tak ada harapan. Aku tak akan seperti itu.
Langit, sekian dulu ya. Aku akan tidur sebentar lagi. Semoga kau tetap tegar walau tak bergairah.
Tertanda, aku yang sedang menatapmu disudut kamar
Luka
Luka, apa kabar ? lima detik lalu aku baru sadar kalau kau sudah lama hilang. Dimana kau ? Aku sudah pergi ke tumpukan koran lama digudang, kau tak ada. Di lemari tua milik Ayah, tak kutemukan . Di balik pigora lusuh foto kakekku, tak ada juga. Aku mencarimu, Luka. Segeralah memberi tanda.
Kemarilah, aku punya sepotong kue coklat yang mungkin, manis rasanya. Aku ingin menghabiskan sepotong kue coklat ini bersamamu. Jika kau tidak suka kue coklat, kau boleh pilih sesukamu, katakan saja. Asal jangan menghilang lagi walau aku melupakanmu beberapa saat, nanti.
Ketika kau datang, bawa serta teman-temanmu ya, si Perih dan si Memar. Oh, si Duka juga jangan sampai lupa. Cepat, ya.
Tertanda,
Aku yang hampa.
Sabtu, 28 Januari 2012
Semoga
Ada sesuatu yang besar, berbeda, dan aneh, kurasa. Tapi ini berbeda yang menyenangkan, aku bahagia.
semoga aku tak salah mengeja, inikah cinta ? Yah, semoga .
Jendela
Kufikir selama ini, aku melihat dunia pada jendela yang benar. Jendela yang tepat.
Tapi setelah semua yang kualami sekarang, aku jadi bertanya-tanya,
jangan-jangan selama ini aku salah jendela ?
Ahh, sial.
Masih bisakah aku pindah jendela sekarang ?
Semoga masih ada waktu.
Selasa, 24 Januari 2012
Hujan (3)
*****
Diam atas jutaan rasa rindu ini masih melegakan selagi langit masih bersedia menurunkan hujan . Lega karena langit menemaniku merindu. Terimakasih ya.
Aku masih punya banyak rindu untukmu. Semoga kemarau tak buru-buru datang.
Hujan (2)
*****
Jika beruntung, aku bisa lihat pelangi. Mejikuhibiniu. Cantik sekali.Kali ini mereka bilang pelangi indah. Sungguh tidak adil. Mereka menyebut awan mendung mengerikan tapi mereka suka pelangi. Kufikir, awan mendung melahirkan pelangi, benar tidak ? Kenapa harus suka pelanginya saja.
*****
Mendung itu teduh. Seteduh matamu, teduh dan meneduhkan.
Sudah lama sekali kita tidak jumpa, tapi hujan bersedia membawa pikiranku jauh kepadamu, entah dimana. Tapi jelas kepadamu. Jika kupandangi hujan begitu lama, artinya aku menemukanmu diantara rintik-rintik anggun itu.
Rasanya hujan dapat mewakili rasa rinduku kepadamu. Tumpah ruah.
Aku merindukanmu seperti hujan merindu bumi.
Sayangnya kau sama dengan mereka. Tak suka hujan. Aku hanya bisa diam.
Hujan
Hujan nampaknya rindu bumi. Mungkin langit tahu, kami disini kering.
Jika mereka bilang awan mendung mengerikan, kataku itu indah. Entah, kufikir terkesan teduh saja. Memang, aku sedikit tidak bersahabat dengan matahari. Kini dia terlampau terik. Jika lupa membawa sunblock, pasti wajahku terbakar. Yang aku heran, mengapa langit bisa tahan begitu dekat dengan matahari ?
Mungkin hujan adalah cara langit menjeritkan kepedihan. Yang aku tidak paham, pedih macam apa yang langit rasakan. Yang aku tahu, hujan itu indah dibalik apapun yang langit rasakan waktu hujan.
Rasanya, ketika hujan turun, waktu seakan berjalan lebih lambat. Kufikir, cara mesnyukurinya adalah dengan menikmati.
Jika ada petir ? Entah, tapi aku benci petir. Suaranya membuatku migrain.
Hujan jatuh dipelupuk mataku. Hujan jatuh di atas hidungku. Hujan jatuh di pipiku. Hujan jatuh membasahiku.
Aku tersenyum. Itu menyenangkan.
Pernah sadar tidak, bahwa hujan itu wangi ?Aku sadar.
Tidak percaya ? Coba buktikan nanti.
Jika mereka bilang awan mendung mengerikan, kataku itu indah. Entah, kufikir terkesan teduh saja. Memang, aku sedikit tidak bersahabat dengan matahari. Kini dia terlampau terik. Jika lupa membawa sunblock, pasti wajahku terbakar. Yang aku heran, mengapa langit bisa tahan begitu dekat dengan matahari ?
Mungkin hujan adalah cara langit menjeritkan kepedihan. Yang aku tidak paham, pedih macam apa yang langit rasakan. Yang aku tahu, hujan itu indah dibalik apapun yang langit rasakan waktu hujan.
Rasanya, ketika hujan turun, waktu seakan berjalan lebih lambat. Kufikir, cara mesnyukurinya adalah dengan menikmati.
Jika ada petir ? Entah, tapi aku benci petir. Suaranya membuatku migrain.
Hujan jatuh dipelupuk mataku. Hujan jatuh di atas hidungku. Hujan jatuh di pipiku. Hujan jatuh membasahiku.
Aku tersenyum. Itu menyenangkan.
Pernah sadar tidak, bahwa hujan itu wangi ?Aku sadar.
Tidak percaya ? Coba buktikan nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)
