Rabu, 01 Februari 2012

Undangan

       Hai, kamu apakabar ?,
       Hari pertama bulan Febuari, aku ingat kamu yang bertahun lalu pergi. Ingatan ini selalu datang secara tiba-tiba, namun serius. Karena aku tak pernah main-main mencintaimu. Dulu, pun sekarang walau kamu sudah berani pergi diam-diam.

       Yang kusebut bertahun-tahun itu, ternyata masih sedekat ini dengan benakku. Aku seperti dihadapkan pada sebuah layar besar yang memutar cerita cinta tentang aku dan kamu yang sumringah. Aku baru sadar, kalau momen seperti saat kita makan bakso 5ribuan dipinggir jalan waktu hujan, ternyata berharga luar biasa. Padahal dulu, kamu mati-matian merayuku agar mau makan disitu. Hmmm, aku kangen kamu. Seberapa keras aku harus berteriak agar kamu bisa dengar ?

       Sudah bertahun-tahun ya, tapi aku masih saja menulis namamu di kaca mobilku yang sedang mengembun karena hujan. Huruf besar semua. TARA. Lalu buru-buru kutiup. Namamu hilang. Aku tersenyum menertawakan takdir. Semoga tak ada malaikat yang melihatku melakukan hal bodoh seperti tadi.

        Hari ini aku berencana kerumahmu yang sekarang, mengantarkan undangan. Seminggu lagi aku menikah, Tar. Walaupun aku tahu, kamu tidak akan pernah datang, bahkan hanya untuk mendoakan rumah tanggaku langgeng. Tapi toh akan tetap kuantar. Setidaknya aku punya alibi untuk mengunjungimu, agar nanti calon suamiku tidak marah. Tahu sendiri kan dia agak sedikit sensitif jika menyangkut kamu.

       25 menit, aku sampai. Kuparkir mobilku didepan komplek perumahanmu (Gangnya tak memungkinkan mobilku diparkir tepat di depan rumah Tara). Langit mulai tenang, aku turun tanpa payung diiringi gerimis yang masih rapat-rapat. Aku melangkah pelan menuju rumahmu, aku sedikit lupa karena semua rumah disini terlihat sama. Aku berjalan terus sambil bermain tebak-tebakan dengan perasaan, tapi toh kutemukan rumahmu.

       Ahh, iya kamu pasti sedang tidur. Sekarang hari-harimu kau lewati hanya dengan tidur. Kalau begini, aku bingung bagaimana memberikan undangan pernikahanku. Ku letakkan saja disitu ya, ditempat yang mungkin tidak bisa kau jangkau.

       Tara, aku pamit ya, sebentar lagi aku berkeluarga. Aku akan bahagia, Tar. Ku doakan kamu bahagia juga, walau aku tak tahu kehidupan seperti apa yang kau jalani sekarang. Sampai ketemu ya, Tar..

Aku pulang setelah menabur bunga diatas pusaranya. Gerimis masih rintik-rintik, tapi aku tidak menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar