source : google
Kamis, 23 Februari 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
12.
Aku tak berharap menjadi superhero. Aku hanya ingin mencoba semampunya menjadi hero biasa, dihatimu.
Someday, someway, and somehow
Dimatamu
Dimatamu, aku melihat sesuatu yang kau sebut kenangan, kusebut itu duka. Memendarkan warna biru yang pekat dalam tungkai masa lalu. Sementara kau masih berusaha keras membuatnya menjadi baik-baik saja. Kau fikir tak mungkin, kufikir masih bisa.
Dimatamu, aku melihat sesuatu yang kau sebut bukan apa-apa, kusebut itu luka. Tergores masa lalu yang membuat matamu terlihat begitu penuh akan kepedihan. Sebagai cendera mata dari sesuatu yang kau sebut itu cinta, kusebut patah hati.
Sementara didepan begitu banyak rasa yang lebih indah dari duka dan luka,
Sementara didepan begitu jelas aku menawarkan rasa yang lebih istimewa dari kenangan dan sesuatu yang bukan apa-apa.
Sementara aku menunggumu
Sementara aku menunggumu
Jumat, 17 Februari 2012
Bulir-bulir hujan
Kepada,
Bulir-bulir hujan yang menyelinap masuk lewat celah sempit atap kamarku.
Aku tidak pernah setuju untuk mengijinkanmu masuk kesini, sekalipun lewat celah-celah sempit tak terlihat itu. Kehadiranmu semacam membuatku merasa tak nyaman, dan aku benci, kau lagi lagi datang. Karena kehadiranmu ke kamarku ini, membawa perasaan yang ambivalen dalam diriku yang aku sendiri tak paham. Di satu sisi aku mencintai hujan, disisi lain aku membenci bulir-bulir yang menjelma menjadi kamu ini menghampiriku, bahkan disaat aku mulai bisa mengontrol perasaanku yang sudah lama berkecamuk karena kamu. Aku benci bahwa ketika kau mulai menetes dilantaiku dengan suara berdecik, aku harus mengahpusmu disertai perasaan dongkol dengan kain pel lusuh dan membiarkanmu hilang. Padahal, jelas-jelas aku mencintaimu.
Wahai bulir-bulir hujan yang kini menjelma menjadi kamu, jika kau memakasa masuk kesini untuk melihat seberapa dingin dinding-dinding kamarku menyimpan rasa rindu, setidaknya jangan jatuh diatas pipiku. Bagaimanapun, itu membuatku terlihat menangis. Aku tak ingin menangis karena kamu, lagi ...
Rumit
Padamu, aku tak ingin berharap banyak sesungguhnya. Aku hanya terlalu pengecut untuk sakit hati lagi. Kenyataannya, jatuh cinta padamu aku tak punya kendali. Betapapun kupaksa diriku untuk tidak tersenyum sepanjang hari seperti orang gila, aku tidak terlalu berhasil. Kenyataannya lagi, perasaanku padamu hidup seperti sel--selalu membelah tanpa kita sadari untuk memperbanyak diri-- Ya, begitulah, sama seperti perasaan ini. Perasaan yang tidak terlalu berhasil kuterka bagaimana akan membawa hari-hariku berikutnya yang sangat membosankan dan statis ini.
Mengenalmu adalah hal yang indah. Kamu selalu berhasil membuatku memikirkanmu dalam khayalanku yang selalu sempurna. Tapi, seberapa indah khayalan jika tetap khayalan ? Kamu selalu membuatku mempunyai alasan untuk tetap berada disini, dalam persaan yang kelabu, tak jelas. Kesalahannya adalah, aku betah.
Berada disuatu ketidakjelasan adalah tidak menyenangkan, semua orang tahu, kuyakin kamu juga tahu. Mungkin persaanmu padaku juga abuabu, ya ? Kita memang rumit. Rumit, tapi indah.
Tolong ya, secepat mungkin memberiku kabar, apapun itu .
Dan, jika semua tentangmu selama ini adalah salah, sadarkan aku secepat mungkin. Sekarang juga. Kamis, 16 Februari 2012
Senin, 13 Februari 2012
Kepada Kamu
Kepada kamu, yang membuat hari-hariku sungguh berbeda
Kamu, apa kabar ? Mungkin aku punya cukup nyali untuk menanyakannya secara langsung mengenai kabarmu, setidaknya lewat sms. Hanya saja, kufikir kamu yang tak punya cukup waktu untuk menjawabnya. Dan, aku selalu punya alasan untuk paham. Bahwa kamu sangat sibuk.
Dan pada kenyataannya, memang aku harus selalu punya alasan untuk paham, aku tidak ada pilihan. Toh aku, sama sekali bukan siapa-siapa buat kamu, kan ? Sekalipun setiap malam kita saling mengirim perhatian lewat sms. Atau mungkin, hanya aku yang melakukannya ?
Entah bagaimana awalnya, yang aku tahu kamu membuat 24 jamku menjadi berbeda. Menjadi aneh. Dan, entah apalagi istilahnya.
After all, aku hanya senang kamu bisa menjadi bagian dari 24 jamku yang monoton. Aku belum terlalu bosan untuk menunggumu membalas smsku dengan tidak melakukan apapun. Aku belum terlalu bosan untuk mengahrapkan perasaan yang hampir tumpah ini kamu ketahui. Aku belum terlalu bosan untuk mendengarkanmu mencelaku dalam kelakarmu yang tidak lucu. Aku belum terlalu bosan. Setidaknya sampai nanti, sampai aku mengerti bahwa ternyata semua ini konyol.
P.S Kalau begitu, sampai nanti yaa.
P.S Kalau kamu keberatan dengan sikapku kepadamu yang selalu menanyakanmu sudah makan atau belum, tunggu saja sampai aku benar-benar sadar bahwa ini memang konyol. Sabar saja ya, mungkin sebentar lagi. Jika kamu benar-benar tidak tahan, ya sudahlah pergi saja.
Tertanda,
Aku yang memendam rasa kepada kamu
Tertanda,
Aku yang memendam rasa kepada kamu
Minggu, 12 Februari 2012
Just so sweet
Disini hanya ada detak suara jam dinding yang semakin malam terasa semakin memekakkan telinga, disela sinar bulan yang mengintip dari balik jendela. Ya bulan itu, yang setia menjadi penghantar pesan diantara kita. Karena kita selalu tahu, disaat-saat tertentu, kamu, aku, memandang bulan yang sama
source, here
Sabtu, 11 Februari 2012
Jumat, 10 Februari 2012
70.
KAMU...sedetik menjauh, sedetik mendekat. Pergi, lalu kembali lagi. Sebentar ada, sekelebat tiada. Kau seperti pusaran tanya yang tak kunjung berhenti
-Moeamar Emka-
-Moeamar Emka-
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)