Sabtu, 24 Maret 2012
Minggu, 18 Maret 2012
Deep
"Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja."
Recti verso - Dewi lestari
Recti verso - Dewi lestari
Sabtu, 17 Maret 2012
Kamis, 23 Februari 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
12.
Aku tak berharap menjadi superhero. Aku hanya ingin mencoba semampunya menjadi hero biasa, dihatimu.
Someday, someway, and somehow
Dimatamu
Dimatamu, aku melihat sesuatu yang kau sebut kenangan, kusebut itu duka. Memendarkan warna biru yang pekat dalam tungkai masa lalu. Sementara kau masih berusaha keras membuatnya menjadi baik-baik saja. Kau fikir tak mungkin, kufikir masih bisa.
Dimatamu, aku melihat sesuatu yang kau sebut bukan apa-apa, kusebut itu luka. Tergores masa lalu yang membuat matamu terlihat begitu penuh akan kepedihan. Sebagai cendera mata dari sesuatu yang kau sebut itu cinta, kusebut patah hati.
Sementara didepan begitu banyak rasa yang lebih indah dari duka dan luka,
Sementara didepan begitu jelas aku menawarkan rasa yang lebih istimewa dari kenangan dan sesuatu yang bukan apa-apa.
Sementara aku menunggumu
Sementara aku menunggumu
Jumat, 17 Februari 2012
Bulir-bulir hujan
Kepada,
Bulir-bulir hujan yang menyelinap masuk lewat celah sempit atap kamarku.
Aku tidak pernah setuju untuk mengijinkanmu masuk kesini, sekalipun lewat celah-celah sempit tak terlihat itu. Kehadiranmu semacam membuatku merasa tak nyaman, dan aku benci, kau lagi lagi datang. Karena kehadiranmu ke kamarku ini, membawa perasaan yang ambivalen dalam diriku yang aku sendiri tak paham. Di satu sisi aku mencintai hujan, disisi lain aku membenci bulir-bulir yang menjelma menjadi kamu ini menghampiriku, bahkan disaat aku mulai bisa mengontrol perasaanku yang sudah lama berkecamuk karena kamu. Aku benci bahwa ketika kau mulai menetes dilantaiku dengan suara berdecik, aku harus mengahpusmu disertai perasaan dongkol dengan kain pel lusuh dan membiarkanmu hilang. Padahal, jelas-jelas aku mencintaimu.
Wahai bulir-bulir hujan yang kini menjelma menjadi kamu, jika kau memakasa masuk kesini untuk melihat seberapa dingin dinding-dinding kamarku menyimpan rasa rindu, setidaknya jangan jatuh diatas pipiku. Bagaimanapun, itu membuatku terlihat menangis. Aku tak ingin menangis karena kamu, lagi ...
Rumit
Padamu, aku tak ingin berharap banyak sesungguhnya. Aku hanya terlalu pengecut untuk sakit hati lagi. Kenyataannya, jatuh cinta padamu aku tak punya kendali. Betapapun kupaksa diriku untuk tidak tersenyum sepanjang hari seperti orang gila, aku tidak terlalu berhasil. Kenyataannya lagi, perasaanku padamu hidup seperti sel--selalu membelah tanpa kita sadari untuk memperbanyak diri-- Ya, begitulah, sama seperti perasaan ini. Perasaan yang tidak terlalu berhasil kuterka bagaimana akan membawa hari-hariku berikutnya yang sangat membosankan dan statis ini.
Mengenalmu adalah hal yang indah. Kamu selalu berhasil membuatku memikirkanmu dalam khayalanku yang selalu sempurna. Tapi, seberapa indah khayalan jika tetap khayalan ? Kamu selalu membuatku mempunyai alasan untuk tetap berada disini, dalam persaan yang kelabu, tak jelas. Kesalahannya adalah, aku betah.
Berada disuatu ketidakjelasan adalah tidak menyenangkan, semua orang tahu, kuyakin kamu juga tahu. Mungkin persaanmu padaku juga abuabu, ya ? Kita memang rumit. Rumit, tapi indah.
Tolong ya, secepat mungkin memberiku kabar, apapun itu .
Dan, jika semua tentangmu selama ini adalah salah, sadarkan aku secepat mungkin. Sekarang juga. Kamis, 16 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)