Sabtu, 04 Februari 2012

Kukira nyamuk, tapi bukan

Ada yang berisik sekali semalam. Aku sampai tidak bisa tidur. Ku tengok kanan kiri, kukira nyamuk. Tapi tak kutemukan. Waktu sibuk melambai-lambaikan tangan di sekitar kepala mengusir nyamuk yang tak kelihatan, ada yang nyeletuk. 


"Ini kami yang berisik" 


Bingung. Suaranya dekat sekali.



"Ini aku, Hatimu yang sedang kegirangan karena si dia, Pikiranmu yang sedang berputar-putar memikirkan si dia. Hei, kau sedang jatuh cinta !"


Ahh, ternyata. 
Iya aku baru sadar. 

Jumat, 03 Februari 2012

:))

Hatiku lompat lompat. Ya Tuhan, tolong jaga jangan sampai ketinggian yaa, nanti kalau jatuh sakit :))

Kamis, 02 Februari 2012

Lembayung

       Bumi  masih disitu. Menatapi Langit dalam-dalam. Dalaaaam sekali, dan penuh arti. Sudah seminggu Langitnya tak lagi sama. Tak ada lagi semburat jingga diwajahnya ketika hari akan menjemput malam. Mungkin benar Langit sedang ngambek. Atau jangan-jangan tak akan ada lagi langit sore seperti yang dulu. Karena kini jadi kelabu. Mungkin tak akan ada lagi senja di wajah Langit untuk Bumi.

       Lama sekali Bumi disitu, kepalanya mendongak keatas sejak tadi. menanti senja yang tak datang-datang juga. Mataharipun buru-buru beranjak. Perlahan-lahan Langit yang tadinya sudah kelabu mulai menghitam, malam datang. Bumi ikut-ikut beranjak, menjauhi Langit yang tak lagi sama. Mungkin karena Bumi yang duluan berubah. Entahlah.

Rabu, 01 Februari 2012

Undangan

       Hai, kamu apakabar ?,
       Hari pertama bulan Febuari, aku ingat kamu yang bertahun lalu pergi. Ingatan ini selalu datang secara tiba-tiba, namun serius. Karena aku tak pernah main-main mencintaimu. Dulu, pun sekarang walau kamu sudah berani pergi diam-diam.

       Yang kusebut bertahun-tahun itu, ternyata masih sedekat ini dengan benakku. Aku seperti dihadapkan pada sebuah layar besar yang memutar cerita cinta tentang aku dan kamu yang sumringah. Aku baru sadar, kalau momen seperti saat kita makan bakso 5ribuan dipinggir jalan waktu hujan, ternyata berharga luar biasa. Padahal dulu, kamu mati-matian merayuku agar mau makan disitu. Hmmm, aku kangen kamu. Seberapa keras aku harus berteriak agar kamu bisa dengar ?

       Sudah bertahun-tahun ya, tapi aku masih saja menulis namamu di kaca mobilku yang sedang mengembun karena hujan. Huruf besar semua. TARA. Lalu buru-buru kutiup. Namamu hilang. Aku tersenyum menertawakan takdir. Semoga tak ada malaikat yang melihatku melakukan hal bodoh seperti tadi.

        Hari ini aku berencana kerumahmu yang sekarang, mengantarkan undangan. Seminggu lagi aku menikah, Tar. Walaupun aku tahu, kamu tidak akan pernah datang, bahkan hanya untuk mendoakan rumah tanggaku langgeng. Tapi toh akan tetap kuantar. Setidaknya aku punya alibi untuk mengunjungimu, agar nanti calon suamiku tidak marah. Tahu sendiri kan dia agak sedikit sensitif jika menyangkut kamu.

       25 menit, aku sampai. Kuparkir mobilku didepan komplek perumahanmu (Gangnya tak memungkinkan mobilku diparkir tepat di depan rumah Tara). Langit mulai tenang, aku turun tanpa payung diiringi gerimis yang masih rapat-rapat. Aku melangkah pelan menuju rumahmu, aku sedikit lupa karena semua rumah disini terlihat sama. Aku berjalan terus sambil bermain tebak-tebakan dengan perasaan, tapi toh kutemukan rumahmu.

       Ahh, iya kamu pasti sedang tidur. Sekarang hari-harimu kau lewati hanya dengan tidur. Kalau begini, aku bingung bagaimana memberikan undangan pernikahanku. Ku letakkan saja disitu ya, ditempat yang mungkin tidak bisa kau jangkau.

       Tara, aku pamit ya, sebentar lagi aku berkeluarga. Aku akan bahagia, Tar. Ku doakan kamu bahagia juga, walau aku tak tahu kehidupan seperti apa yang kau jalani sekarang. Sampai ketemu ya, Tar..

Aku pulang setelah menabur bunga diatas pusaranya. Gerimis masih rintik-rintik, tapi aku tidak menangis.

Selasa, 31 Januari 2012

Kota dan Aku

       Ini kota sudah tak lagi nyaman. Aku ingin pindah kota, tapi tak tahu jalan. Ini saja sudah tersesat, padahal aku tak pernah keluar rumah tanpa peta dan kompas. Tapi angin kemarin sore terlalu kencang, petaku terbawa terbang. kompasku hilang. Aku juga hilang, dan kehilangan.

       Kota ini ramai yang terhampa, diam yang tergaduh, bising yang tersepi. Aku kedinginan ditengah panik. Kau tahu, tapi acuh. Aku tak peduli. Harapanku kugadaikan ditengah jalan untuk biaya makan. Aku Gusar. Menepi pada teras orang, aku malah terjebak. Jalanku makin rumit

       Langit bahkan tak lagi baik, aku dimusuhi. Aku ditumpahi rasa bersalah kota ini lewat hujan, aku dipaksa berteduh. Aku mau, terpaksa. Sudah itu aku dikejar angin besar, aku hampir digulung. Aku dipaksa berlari. Kulakukan, tertatih.

       Aku ingin pindah kota, tapi aku tak ada kendaraan. Perutku lapar, tapi aku tak lagi punya harapan untuk digadaikan sebagai biaya makan. Aku menyerah, semakin lemah. Sudahlah.

     
Kota ini, hatimu yang tak menginginkanku tinggal .

Senin, 30 Januari 2012

Bintang

Kepada langit yang hitam dan tegar,

       Aku ingin menyampaikan salam kepada Andromeda, Antlia, Aquila, dan ribuan lainnya. Sampaikan kalau mereka memukau saat kau sedang tidak mendung dan tenang. Mereka cantik. Berpendar-pendar dalam tubuhmu yang sendu tak bergairah meski tegar. Kau tampak ramai dan menawan, seperti mata seseorang yang sedang jatuh cinta. berbinar-binar.

       Langit, tahukah kau aku sering berbincang dengan mereka diam-diam tanpa kau ketahui. Walau terpisah jutaan kilometer. Kami punya cara sendiri untuk saling menyapa, dan itu sering. Kali ini, lewat kau saja karena mereka sedang kau sembunyikan dibalik ketiakmu. Rupanya kau akan menurunkan hujan lagi, ya ?

       Jika benar kau turunkan hujan malam ini, bolehkah aku meminta sertakan satu bintang untukku, Langit? Aku hanya ingin menyimpannya dimataku agar setiap hari aku terlihat sedang jatuh cinta, though i'm not. 

       Langit, aku hanya sedang tidak paham, jika ada bintang yang ekornya berpendar terang sekali sepanjang ia meluncur, mereka buru-buru memanjatkan harapan. Bukankah justru baru saja ada harapan yang dibuang Tuhan (karena Tuhan tak setuju dengan harapan itu) lewat bintang berekor panjang itu ? kufikir jahat sekali jika berharap diatas pengharapan seseorang yang sudah tak ada harapan. Aku tak akan seperti itu.

       Langit, sekian dulu ya. Aku akan tidur sebentar lagi. Semoga kau tetap tegar walau tak bergairah.

Tertanda, aku yang sedang menatapmu disudut kamar
       

Luka



Disudut rasa bersalah, siang yang teduh.

       Luka, apa kabar ? lima detik lalu aku baru sadar kalau kau sudah lama hilang. Dimana kau ? Aku sudah pergi ke tumpukan koran lama digudang, kau tak ada. Di lemari tua milik Ayah, tak kutemukan . Di balik pigora lusuh foto kakekku, tak ada juga. Aku mencarimu, Luka. Segeralah memberi tanda.

      Kemarilah, aku punya sepotong kue coklat yang mungkin, manis rasanya. Aku ingin menghabiskan sepotong kue coklat ini bersamamu. Jika kau tidak suka kue coklat, kau boleh pilih sesukamu, katakan saja. Asal jangan menghilang lagi walau aku melupakanmu beberapa saat, nanti.

       Ketika kau datang, bawa serta teman-temanmu ya, si Perih dan si Memar. Oh, si Duka juga jangan sampai lupa. Cepat, ya. 

Tertanda,
Aku yang  hampa.

Aku mencoba, tapi kamu bantu aku ya

Suatu pagi yang dingin di penghujung Agustus 2009
Untuk kamu, yang kemarin ijin pergi.

       Semoga kamu sudah bangun. Agar kamu bisa merasakan betapa syahdunya pagi ini. Karena gerimis menggantikan embun untuk hadir mengantarkan pelangi. Selamat pagi, hatiku masih sama seperti kemarin. Masih milikmu walau jelas-jelas aku tahu kamu tidak ingin.
Padahal dulu kamu yang meminta

       Ku harap aku masih punya daya untuk mengatakan itu, tapi nyatanya sama sekali habis dimakan rasa bersalahmu  kepadaku. Maka kini aku berharap, semoga kamu seorang indigo yang mampu membaca perasaanku tanpa aku harus mengatakan padamu.

       Kamu tahu ?Tertatih aku mengumpulkan remahan perasaanku yang, mungkin hancur. Kamu hancurkan. Mengenai perasaan itu, aku berniat mengembalikannya padamu utuh, tapi aku tidak menemukan beberapa bagiannya. Mungkin terselip di paru-paruku, belakangan nafasku sedikit sesak. Mungkin beberapa ada dijantungku, belakangan detaknya mulai tak wajar. Yaaa nanti akan kucari. Maka sebagian dulu kukembalikan, sisanya kucicil, aku janji.

       Di hari-hariku berikutnya, kumohon jangan menatapku seperti itu lagi, ya. Itu semacam menusuk persaanku semakin dalam. Rasanya ada sesuatu yang menyala dari matamu yang membuatku semakin lemah terhadap perasaanku. Nanti aku tidak bisa move on
       
       Oh iya,
      Jika kamu ingin pergi berjanjilah satu hal. Jangan meninggalkan jejak, ya. Sungguh, nanti aku kerepotan menghapusnya. 
       

Once

Time passes. Even when it seems impossible. Even when each tick of the second hand aches like the pulse of blood behind a bruise. It passes unevenly, in strange lurches and dragging lulls, but pass it does. Even for me.

Minggu, 29 Januari 2012

Dari yang terdalam

       Aku harap kau tidak terlalu sibuk untuk mengingat kalau kau harus makan siang, dengan teratur. Aku harap, semoga kaca dirumah tidak terlalu kecil untuk menunjukkan bahwa kau sekarang terlihat jauh lebih kurus. Aku hanya takut kesibukanmu yang semakin liar itu, memakan sebagian lagi tubuhmu yang kini sudah rapuh digulung waktu. Aku harap, kau tidak pernah lupa membawa minyak angin aromatherapy-mu agar jika sutau saat kau merasa pusing, minyak angin itu segera membantumu untuk pulih.

       Aku harap, aku masih punya waktu untuk mengingatkanmu kalau kau harus makan siang, dengan teratur. Aku harap, aku masih punya waktu untuk memintamu sekedar berkaca agar kau tahu kalau kau sekarang terlihat jauh lebih kurus. Aku harap, aku masih punya waktu untuk menanyakan kabarmu ditengah kesibukanmu sebagai seorang kepala di kantor. Aku harap.

       Ma, semoga Allah berkenan memberiku waktu lebih lama untuk membuktiikan bahwa aku mampu membuatmu merasa tidak sia-sia menahan lapar saat makan siang, membuatmu lapang karena tidak sempat menyadari bahwa kesibukanmu terlampau jahat terhadap tubuhmu, membuatmu merasa bahwa semua kerja kerasmu berharga karena anakmu ini berhasil menjadi seorang apoteker. Insya Allah Ma, 4 tahun lagi.

       Mohon doa restumu.